13112007
Rumah saya berada di kawasan perumahan di perbatasan Kabupaten dan Kota Bogor. Dari jalan raya, untuk bisa sampai ke rumah saya sebetulnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Akan tetapi seperti pada umumnya, di depan komplek banyak mangkal tukang ojek yang setiap kali kita berjalan memasuki komplek, langsung menghampiri kita dengan sikap siaga mengantar yang sulit kita tolak. Jadilah setiap berangkat atau pulang, saya naik ojek. Tak pernah tega menolak.
Para tukang ojek ini orang-orang baik hati yang galak. Baik hati, karena ramah pada penghuni komplek, tapi galak pada angkot yang mengantar penumpang ke dalam komplek. Jangan coba-coba, pasti dikeroyok. Karena terlalu kerap terjadi, akhirnya tak pernah ada angkot yang berani masuk ke lingkungan komplek untuk menaikturunkan penumpang, kecuali angkot yang memang dimiliki penghuni komplek.
Tak ada nominal pasti yang ditetapkan para tukang ojek yang baik hati itu. Serelanya. Anak-anak sekolah mungkin memberi Rp. 500,-. Yang lain mungkin Rp. 1000,- atau Rp. 2.000,-. Akan tetapi, menurut orang-orang komplek, mereka lazim memberi Rp. 2000,-. Tak pernah diprotes.
Saya termasuk yang sama sekali tak mengerti dan tak mau mengerti bahan bakar kendaraan. Saya punya teman-teman yang berkendaraan roda dua dan roda empat. Kadang-kadang memang ada di antara mereka yang bercerita tentang kebiasaan mengisi bensin dan alokasi penggunaan bensin hingga jarak tempuh tertentu, misalnya sehari habis bensin sekian liter, atau jika pergi dari suatu lokasi A menuju lokasi B akan menghabiskan sekian liter. Saya tak pernah menyimak. Oleh karena itu, saya sama sekali tak bisa mengira-ngira berapa liter yang mungkin dihabiskan tukang ojek setiap hari.
Lalu, suatu hari harga bahan bakar naik. Tapi penghuni komplek tak menaikkan ongkos ojek. Masih tetap berpegang pada harga lama, toh tak ada tukang ojek yang protes. Begitulah kalau dikasih bandrol serelanya.
Entah mengapa saya merasa perlu menaikkan ongkos ojek. Jadilah saya membayar Rp. 3.000,- sekali jalan. Artinya, saya menambah Rp. 1000,- x 2 dalam sehari. Kecil, tapi cukup berarti di tengah harga-harga yang melambung karena kenaikan harga bahan bakar. Kalau dihitung sih pendapatan saya pas-pasan, terlebih apabila dikalkulasi setiap hari saya menggunakan jasa ojek 2 kali sehari, berangkat dan pulang, setidaknya 5 hari kerja dalam seminggu atau 20 hari sebulan. Belum transportasi umum ke tempat kerja yang terasa mencekik bila dibandingkan dengan pendapatan saya yang hanya PNS. Tak apalah, mudah-mudahan segalanya berjalan lancar. Bukankah rezeki kita telah diatur Allah? Buktinya, hingga hari ini alhamdulillah saya tercukupkan. Masih mampu membayar Rp. 3.000,- setiap kali.
Karena pernah mengalami tabrakan beruntun satu kali, tertabrak motor ketika sedang bersepeda satu kali, terjatuh dari motor dua kali, saya trauma dan penakut kalau menyeberang. Jangan ditanya sabarnya saya kalau menyeberang, tahan menunggu sampai jalanan kosong sama sekali, lalu lari ke seberang! Para tukang ojek sering berusaha menolong, meski sambil tertawa. Entah dengan menjemput ke seberang, atau meniup peluit meminta kendaraan berhenti untuk memberi kesempatan pada saya menyeberang. Saat saya lari, pasti ditertawakan. Saya sih tertawa aja, maklum. Pasti lucu memang, menyaksikan orang segede saya masih ketakutan menyeberang. Bodo ah. Yang penting selamat dan saya masih hidup sampai kini.
Para penghuni komplek biasa memanggil ojek dengan lambaian tangan dari jauh. Tapi saya nyaris tak pernah. Mereka justru yang menghampiri saya begitu melihat saya dari jauh. Dalam beberapa kesempatan, saya dibuat jengah karena tukang ojek memilih menghampiri saya meskipun di belakang saya ada orang lain yang telah terlebih dahulu melambaikan tangan. Biasanya saya ngotot tak mau naik karena menurut saya ada yang jauh lebih berhak. Tapi tak lama biasanya ojek lain menghampiri orang yang melambaikan tangan tersebut. Jika begitu, baru saya mau naik ojek.
Semula, saya tak mengerti mengapa hal itu terjadi. Akan tetapi, lama-lama saya mengerti. Rupanya Rp. 1000 x 2 sehari itu telah menjadi investasi saya bagi kebaikan tiada henti yang saya peroleh dari para tukang ojek. Pantas selama ini mereka sering mendahulukan saya tinimbang penumpang lain, membantu saya menyeberang, ramah bercerita saat dalam perjalanan, mengajak berlindung saat hujan, mengumandangkan adzan di dekat saya saat petir sambar menyambar dan saya ketakutan, dan kebaikan-kebaikan lainnya yang tak bisa saya runut satu per satu.
Seringkali terjadi, kita tak menyadari telah berinvestasi bagi kebaikan. Tidak selalu dengan uang. Mungkin bisa sekadar tersenyum, mendengarkan kesulitan orang lain, berempati pada yang kehilangan, atau hal-hal lain. Baru saya sadari, alangkah menyenangkannya menerima kebaikan-kebaikan dari investasi kecil yang kita tanamkan pada lingkungan. Tadinya Rp. 1000.- x 2 saya kira cuma mengajari diri sendiri itung-itung jajan. Daripada jajan, saya pikir lebih baik dijadikan tambahan tabungan para tukang ojek buat jajan anak-anaknya. Anggap saja saya jajan permen beberapa biji sehari. Kecil, kan? Ternyata manfaatnya jauh lebih besar dari itu. Sekarang ini, jika saya dalam kesulitan, entah mengganti lampu bohlam yang mati, membeli gas, atau apa saja, saya mudah mendapat bantuan dari mereka. Tinggal meminta, mereka akan datang dengan senyum dan ketulusan membantu.
Ini tidak sama dengan berpamrih, melainkan mengajari diri sendiri untuk selalu percaya, bahwa hal-hal baik yang kita lakukan adalah investasi berharga, yang - meskipun kecil - suatu hari akan menjadi sumber kekayaan hati yang tak terbayangkan. Maka, marilah berinvestasi dengan berbuat baik, bersikap tulus dan selalu memberi. Tuhan pasti menyukai kita dan melapangkan jalan hidup kita. Insya Allah.***